Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan
sekitar tahun 1997/1998 saya dan keluarga pindah kesana, gak banyak yang saat itu tinggal disana. tapi untung sejak wala saya pindah saya telah bertemu dia, teman tumbuh dan dewasa bersama. tak selang beberapa tahun sudah semakin banyak keluarga-keluarga baru disana. dan anak disebelah seumuran dengan si bungsu. mereka dibesarkan bersama-sama, sudah seperti keluarga sendiri. dan memasuki saat memasuki TK aku dan anak 0 besar ini selalu pulang bersama. aku, dia, anak 0 besar, dan teman si bungsu juga mengaji bersama tentu dengan teman-teman yang lain. tapi kami lebih dekat karena terlalu sering bermain dan bertualang bersama. kami semua masuk SD yang sama, kecuali dia. tapi itu tidak menghalangi kami untuk bermain bersama sepulang sekolah. jadi ingat saat selesai subuh kami keliling-kwliling ladang dan kebun masyarakat untuk mencari "bayua" hingga disengat lebah, tapi tak pernah jera. atau pergi kesawah untuk buah hitam dan asam itu atau sekedar makan siang di dangau. dan kadang kami masih melakukannya saat weekend atau saat tidak ada kesibukkan sekolah. tapi beberapa tahun yang lalu kami mulai renggang, bukan karena berantem. teman si bungsu memilih masuk pesantren, tak lama keluarganya pindah, untung masih 1 kota dan masa SMA menyibukkan masing-masing kami. Aku dan dia mulai memasuki masa-masa kuliah, tak bisa lagi stay disana. untung kami kuliah di kota yang sama, tak pernah bertemu walau sering berencana bertemu. dan tahun berikutnya anak 0 besar yang harus pergi kuliah ke kota lain. jarang berjumpa tapi hati dan jiwa ini masih dekat masih tetap sama perasannya saat bersama, saat taraweh bareng, saling ngebully, jjs bareng, tidur bareng. terakhir ngumpul bareng itu awal tahun, kita pergi ke kota sebe;ah yang hanya berjarak 1jam, tak lepas kegilaan sedikitpun sepanjang perjalanan. melakukan hal-hal gila dengan orang-orang gila walau pergi tanpa izin, yang penting pulang selamat. sebenarnya itu bukan ngumpul yang terakhir. beberapa bulan lalu keadaan memaksa kami untuk bersama, tante, mama anak 0 besar, mama juga bagiku dan yang lainnya harus pergi. yang bisa kami lakuakan disana hanya diam dan mencoba menghibur anak 0 besar yang mengangis tersedu-sedu karena kehilangan. dan tepat saat itu juga aku dan keluargaku harus mengosongkan rumah, pindah. benar-benar bukan suatu pertemuan yang diharapkan. sekarang kami hanya bisa berharap ada waktu yang tepat hingga bisa berkumpul lagi membuat kegilaan baru.
Dilema atau galau? Kalau kata dilema yang digunakan kesannya terlalu berat terlalu dewasa, mungkin yang lebih cocok untuk perasaan Cinta saat ini itu galau. Biar dikira anak gaul zaman sekarang yang tiada hari tanpa galau. Sebenarnya galau itu apa sih? Galau adalah suatu perasaan tak menentu, keraguan yang menganggu. Kenapa jadi ngomongin galau? Cinta telah lama mengurung diri dari dunia percintaan. 2 tahun bukan waktu yang sebentar untuk mencintai diri sendiri dan melupakan semua kenangan lalu. Selama itu Cinta berfikir apa pacaran itu penting? Apa mencintai orang sebelum adanya ikatan itu perlu? Kejadian lalu yang membuat Cinta stress dengan putusnya hubungan Cinta dengan Aya, pria yang Cinta cintai melebihi dirinya sendiri, masih meninggalkan sebuah peringatan besar untuk tidak asal dalam mencinta. Cinta tidak lagi anak kecil yang berfikir dan bertindak sesuai kehendak hatinya, kini Cinta lebih dewasa, berfikir lebih realistik. Perasaan hati bukan hal utama yang difikirkannya. Banyak hal yang lebih penting. Keluarga, pendidikan menjadi prioritasnya. Tapi apalah daya Cinta saat dia kembali. Dia yang dulu pernah menemani hari-hari Cinta saat masih mengenakan seragam putih biru. Pria tampan, konyol, playboy, dan berandal. Kini dia datang setelah 5 tahun kami putus membawa banyak perubahan. Ia tidak lagi berandal, kini ia menjadi pria bertanggungjawab, sangat mencintai keluarganya, bukan playboy lagi tapi dia pria yang sering dihanyutkan oleh perasaan. Konyol, menghibur tetap pada dirinya yang kini telah dewasa. Raffi, mantan yang telah menjadi sahabat baikku beberapa bulan terakhir menyatakan isi hatinya agar bisa kembali menjalin hubungan yang lebih baik dari dahulu. Cinta bingung, galau, apa dia harus menerima Raffi sebagai kekasihnya atau menolak Raffi dan menyakitinya lagi serta mengajaknya menjadi sahabat lagi. Cukup satu kali Cinta menyakiti hati Raffi saat dahulu meminta putus dengan alasan yang tidak jelas. Tapi apa menerima Raffi pilihan yang tepat? Cinta sendiri pernah berkomitmen untuk tidak berpacaran dengan orang tidak serius untuk mengarah menikah, karena dia terlalu sakit untuk ditinggal orang yang sangat dia cintai. Dan Cinta masih sangat senang dan bahagia jika dilirik serta mendapat perhatian kecil dari salah seorang temannya di kampus. Cinta tak bisa memutuskan hal itu sendiri, hingga ia membuat sebuah perjanjian tertentu yang jika dilakukan Raffi, Cinta akan menerimanya, tapi hal itu tak diberitahu Cinta kepada Raffi, perjanjian itu hanya Cinta yang tau. Dan ternyata Raffi melakukan hal tersebut untuk Cinta. Tepat pada hari mereka bertemu, Cinta bingung, tapi dia tidak boleh mengikari janji yang dibuatnya sendiri. Telah diperingatkan oleh Putri, sahabat Cinta saat ini untuk memikirkan lebih matang hal ini, jangan karena tidak enak menolak, atau kesenangan sesaat, dan paling penting jangan menyesal mengambil keputusan tersebut karena cinta tak dapat dipaksakan. Dan apa yang dapat dilakukan Cinta saat Raffi menagih jawaban tersebut? Cinta menepati janjinya dan menerima Raffi. Tidaklah buruk menjalin hubungan dengan mantan karena telah saling mengetahui sifatnya satu sama lain. Dan Raffi bukanlah orang yang buruk untuk dibawa diskusi mengenai hidup, karena hidupnya jauh lebih berat dari Cinta. Cinta sama sekali tidak menyangka Raffi akan sangat mencintainya, karena Cinta sekarang lebih cuek, lebih tertutup dan menjaga privasinya, terutama hubungannya dengan pria. Bahkan Raffi juga masih banyak ingat kejadian-kejadian masa lalu saat mereka masih bersama. Cinta yang saat itu hanya memiliki perasaan sayang sebagai sahabat terhadap Raffi merasa sangat bodoh. Bagaimana mungkin Cinta bisa menyakiti Raffi lagi? Kini Cinta sedang belajar mencintai Raffi, walau sedikit sedikit, cinta berusaha agar benih-benih cinta tumbuh dalam dirinya untuk Raffi. Namun dicintai seseorang sepenuh jiwa, dan tidak dapat membalas sebesar cinta yang diberikan, benar-benar membuat Cinta merasa tersiksa. Dan bayangan teman Cinta di kampus juga masih sering muncul dibenak Cinta walau Cinta sedang bersama Raffi. Teman Cinta di kampus yang kembali mendekati Cinta entah kenapa, dan juga kenapa harus mendekati lagi disaat Cinta telah bersama Raffi? Cinta benar-benar bingung menghadapi hal ini, ia tidak ingin menyakiti Raffi yang sangat mencintainya tapi Cinta juga tidak bisa berbohong dan berkata kalau dia tidak senang saat teman dikampusnya itu mendekatinya lagi. Yang dipegang Cinta saat ini, hanyalah komitmennya yang pernah ia buat beberapa saat lalu bersama Raffi. Karena masih terlalu awal bagi Cinta untuk menyerah belajar mencintai seseorang yang telah mencintainya. Satu hal yang kini ia sadari, bahwa dicintai saja itu tidak bahagia, tapi beban. Yang bahagia itu saat dicintai dan mencintai.
Jika dikatakan menyendiri, kata itu kurang tepat mendeskripsikan keadaan Cinta saat ini. Cinta hanya menutup diri dari pria-pria yang mendekatinya. Namun tidak jarang Cinta merasa aneh kepada dirinya sendiri yang terkesan tak akan didekat para lelaki. Biarlah hal itu, cinta tak terlalu memperdulikannya. Cinta hanya akan mencintai dirinya sendiri dan keluarganya terlebih dahulu, hingga ia akan benar-benar siap untuk menerima dan mencintai orang lain dalam hidupnya. Dan Cinta tidak sendiri, masih ada teman-temannya yang selalu didekat Cinta dan tempat Cinta berbagi. Cinta pernah didekati oleh salah seorang temannya di kampus, tapi Cinta tidak memberikan respon yang lebih, karena Cinta yang kini lebih cuek dan tidak agresif, walau sebenarnya Cinta memendam rasa suka kepadanya sejak awal kuliah. Tapi ternyata yang namanya pria itu sekali pdkt dia tidak hanya mendekati satu orang saja, dia juga mendekati orang lain. Nyatanya, saat itu dia pdkt dengan Cinta dan beberapa hari tidak menghubungi Cinta lagi dan tiba-tiba dia telah jadian dengan teman kampus Cinta yang lain. Cinta hanya tertegun atas apa yang dilakukannya, tak tahukah dia kalau ada yang tersakiti? Cinta juga pernah didekati pria lain, tapi pria ini berbeda, dia banyak dekat dengan wanita dan entah kenapa dia bisa mendekati Cinta yang bukan salah satu diantara sekumpulan wanita yang anggap saja geng yang dekat dengannya. Cinta senang berada didekatnya, karena ia selalu menghibur, dan Cinta menyadari kalau dia mendekati bukan untuk dijadikan pacar dan dia lebih cocok dijadikan sebagai sahabat. Kami dekat, bahkan setelah dia jadian dengan orang lain pun kami tetap teman dekat sepertii dahulu. Senior, Cinta tidak tau apa yang ada dibenaknya kini, apa dia terlalu merasa lebih atas perhatian-perhatian kecil yang diberikan orang lain padanya? Sama halnya dengan senior Cinta yang satu ini, bisanya memandangi Cinta setiap kesempatan itu ada. Apa Cinta selalu salah dimatanya? Yang pasti Cinta tidak mau GR karena senior ini, karena ia tidak melakukan apapun untuk Cinta, ia hanya memandangi. Dan orang yang sempat disukai Cinta di kampus, kini telah putus dengan pacarnya. Dia kembali lagi mendekati Cinta, tak tau apa maksud dan tujuannya, Cinta hanya bersikap seperti tak pernah terjadi apa-apa pada diri Cinta. Dan Cinta mulai mencoba untuk meyakinkan diri kalau dia tidak akan mungkin mau serius dengan Cinta, karena Cinta sangat berbeda dengan mantannya, Cinta bukan tipenya dan Cinta tak ingin diberi harapan palsu lagi olehnya untuk kedua kalinya, walau sebenarnya Cinta menyukai harapan tersebut.
Disini aku sendiri. Merenung dengan sebuah kue ulang tahun dan lilin-lilin cantik menghiasinya. 5 Januari 2012, seharusnya ini menjadi hari yang membahagiakan untukku dan 4 orang sahabatku. Seharusnya lilin ini telah ditiup daritadi. Seharusnya aku bercanda gurau, berbagi cerita, membuat makanan untuk cemilan, dan pastinya bersenang-senang dengan mereka. Seharusnya, ya seharusnya. Ingin aku mengacak-acak kue ini dan aku patahkan saja lilinnya. Tapi kenapa, hati dan jiwa ini tak sanggup bertindak. Masih jelas dalam ingatanku saat awal aku bertemu mereka. Sedikitpun aku tidak menyangka jikalau kami akan menjadi satu. Awalnya, siapa itu Vian? Dia hanya orang asing dari luar kota, salah satu kota yang dilalui garis khatulistiwa dan berobsesi sekali menjadi pemimpin. Atau siapa itu rahma? Gadis kecil, imut, hitam manis dari madrasah. Kenapa ia masuk sekolah umum? Padahal dia kan jilbaber. Entahlah. Lihatlah aku dan dua teman baikku dikelas ini Tya dan Cindy, serta teman-temanku yang lainnya yang memang sudah rayonnya kesini dan tentunya kami satu almamater. Awalnya, Tya memang dekat dengan dengan Vian tapi hanya dekat di luar saja tidak untuk didalam hati. Bahkan tidak jarang kami membicarakan Vian dari belakang. Semua hal yang kami ketahui tentang dia tak luput untuk jadi bahan gunjingan kami. Begitu juga Rahma, kalau dalam bahasa Inggrisnya, "she's nothing." Tapi, saat dia berpacaran dengan salah satu teman baik kami saat SMP, dia mulai dianggap ada. Bahkan teringat jelas dibenakku saat homestay di danau Maninjau. Di kamarku ada tiga orang, tentunya itu adalah Aku, Tya, dan Cindy. Dan tepat dikamar sebelah kami, kamar Vian dan Rahma. Mungkin aku pantas dikatakan sebagai seorang penguntit atau sejenisnya, karena pada saat malam, Aku dan Tya menguping pembicaraan Vian dengan pacarannya. Sangat kurang kerjaan dan benar-benar tidak terpuji. Aku juga ingat kejadian "oyen" yang terjadi malam itu. Saat seseorang mencandai Vian yang sedang beristirahat, karena mengganggap itu panggilan dari seorang teman, Vian langsung saja mengintip dari balik pintu kamarnya dengan pakaian "U can see" berwarna oren. Tak tahu kenapa, ternyata peristiwa itu disaksikan teman-teman yang laki-laki hingga jadilah peristiwa oyen. Jika ada yang bertanya kapan awal kalian menjadi sangat dekat? Aku akan berkata selalu berkata hal yang sama, "aku tidak tahu." Tapi aku tahu kalau kami semakin dekat saat kami mulai les matematika. Setiap sabtu sehabis sekolah kami selalu menyempatkan diri untuk makan bersama di cafe dekat sekolah sambil bercerita berbagai hal, bercanda gurau hingga waktu untuk les tiba. Kadang saat weekend dan tidak ada kegiatan les, kami selalu menyempatkan diri untuk berkumpul di rumahku atau di rumah Rahma untuk sekedar bercerita, menonton, atau kadang mencoba berbagai resep-resep baru. Bahkan, saat-saat tertentu, kami menginap dan esok paginya kami maraton. Semua kisah indah kami lalui bersama dan tidak jarang kami melalui saat-saat sedih dan sulit bersama. Kami selalu menemani Tya sewaktu ia putus dengan pacar yang telah bersamanya hingga tiga tahun, hingga akhirnya ia bisa menemukan pengganti di hatinya. Menemani Rahma saat ia dirawat di Rumah Sakit. Menyemangati Vian dan selalu disampingnya saat kedua orangtuanya harus berpisah. Mereka juga selalu menghiburku saat aku ditinggal pergi oleh pacarku. Tidak jarang juga kami saling mengingatkan dalam berbagai hal. Terutama mengingatkan Cindy untuk tidak terlalu mencemaskan berbagai hal dan mengurangi sifat cueknya. Namun tak jarang kami berantem untuk hal-hal kecil hingga hal-hal besar dan membuat dua diantara kami tidak bertegur sapa. Seperti aku dan Vian yang sering berantem kecil atau bisa dikatakan cekcok. Tapi juga pernah ada kejadian besar yang membuat Rahma harus menjauh dari kami, berawal dari masalah pribadi Vian dengan Rahma lalu berlanjut pada masalah Tya dan Rahma dan membuat Rahma menjauh dari kami. Cerita yang penuh gelombang memang. Tapi kami bersyukur, karena beberapa bulan sebelum UN, kami telah berbaikan dan kembali berkumpul. Tak lama, kami harus berpisah karena kuliah di jurusan yang berbeda, mungkin memang masih satu universitas, tapi kami telah sibuk pada urusan masing-masing. Rahma yang berbeda universitas dengan kami membuat hubungan kami semakin renggang. Tya dan Vian yang berada di satu asrama, memang bisa melakukan banyak hal bersama. Tapi hal itu juga tidak bertahan lama, mereka berdua tiba-tiba saja tidak bertegur sapa lagi. Tenyata ada kesalahpahaman diantara mereka, Vian yang waktu itu meninggalkan Tya begitu saja karena menurutnya, Tya dijemput pacarnya, tapi ternyata tidak. Dengan kekanak-kanakkan Tya membalas perbuatan Vian dengan menyebut kebaikannya saat merawat Vian ketika sakit di Asrama. Sejak saat itulah hubungan kami merenggang. Ditambah lagi kami tidak pernah lagi berkumpul bersama seperti saat pertama kami dekat. Biasanya hari ini selalu kami tunggu-tunggu. Tapi hari ini begitu sepi, tidak ada lagi kebahagiaan seperti dua tahun yang lalu. Saat kami tetap tersenyum bahagia walau merayakan hari persahabatan kami hanya dengan sebuah kue sederhana dan mie goreng buatan sendiri. Sungguh, kebahagiaan hari itu sangat aku rindukan. Tak yakin apa aku bisa merasakan bahagia itu lagi atau tidak. Tak satupun dari mereka yang mengingat hari ini. Aku masih tetap disini, ditemani detak jam, sinar rembulan, serta sebuah kue dengan lilin yang menunggu padam. Aku selalu disini, menunggu, menunggu api yang akan padam.
Sambil menunggu pesanan makan siang, aku masih tetap memikirkan yang baru saja terjadi. Disini aku melihat seorang nenek yang segar bugar melayani kami berbelanja. Mencari nafkah sendiri di sebuah warung yang hanya sebesar 4x3 meter. Dipenuhi berbagai jenis makanan ringan dan bangku-bangku panjang serta meja panjang yang sepertinya sering digunakan masyarakat muda sekitar daerah tersebut untuk bermain domino. Hal itu terlihat dari adanya bagian yang tak sedikit terkena tumbukan berkali-kali.

Tadi pagi aku sampai ke tempat ini untuk memenuhi mengikuti Perayaan Maulid Nabi Muhammad S.A.W. sekaligus untuk mengingatkan kami agar selalu menghormati orang tua. Panti Sosial Tresna Werdha (PSTW) atau yang lebih dikenal dengan nama Panji Jompo menjadi tujuan kami. Seluruh guru, karyawan, serta siswa di sekolahku datang berkunjung kesini.

Kami semua dikumpulkan di sebuah aula. Tidak cukup besar untuk menampung kami yang hadir lebih dari 250orang ditambah dengan warga PSTW. Dimataku, bangunan aula ini tidak berubah sekitar 10tahun terakhir ini. Yang berubah mungkin hanya cat yang terlihat dari warna oren bercampur coklat dari langit-langit di panggung. Serta warna putih dari dinding-dinding aula. Semua gambar yang tergantung di dinding aula sudah terlihat memiliki usia lebih dari 10tahun. Warna yang seharusnya putih menjadi kuning kecoklatan pada gambar-gambar tersebut. Banyak gambar yang terpajang mengenai kegiatan kakek nenek disini, apa yang mereka butuhkan, bagaimana psikologi mereka hingga dokumentasi lama yang fotonya juga sudah menguning. Lantai ruangan yang kekurangan tikar untuk alas duduk juga membuktikan kalau ruangan ini jarang digunakan.

Kami semua duduk berhimpit-himpit, sangat sedikit ruang yang ada antara aku dan teman disampingku. Walau begitu kami tetap mengikuti rangkaian acara ini dengan sepenuh hati. Memang aku akui kalau tidak semua hal yang disampaikan pada kata sambutan aku dengarkan. Tapi ada hal benar-benar ku ingat. Cerita dari Bapak Rauf Kepala PSTW. Kisah cinta antara Rio dan mantan kekasihnya Viny. Viny yang baru saja pindah lagi ke kampungnya di Sawahlunto mendengar kabar bahwa mantan kekasihnya, Rio berada di PSTW. Dengan segera. Viny menghubungi Bapak Rauf untuk menanyai kebenaran berita tersebut. Tapi ternyata, tak ada yang bernama Rio dari Padang Ganting yang tinggal di PSTW, dan yang ada hanyalah Pak Kumro, orang tua Rio. Pak Rauf hanya bisa memberikan nomor hp Rio yang dimiliki Pak Kumro pada Viny. Tak lama setelah Viny menghubungi Rio, Rio pulang kampung dari Madura untuk menemui sang mantan, Viny. Rio kini telah sukses, memiliki mobil pribadi yang mewah, rumah makan yang sudah berkembang di Madura dan Jawa Timur. Rio tidak lama berada di Padang Ganting. Karena setelah bertemu Viny ia akan segera kembali tanpa melihat atau bahkan mengunjungi Pak Kumro agak sebentar. Akhirnya Pak Rauf menyuruh Pak Kumro untuk menemui anaknya di kampung. Tapi apa yang didapatkan oleh Pak Kumro? Hanya uang sebesar Rp 100.000,00, Rio tidak mengajak ayahnya untuk tinggal bersamanya, bahkan menanyai apa yang sedang dibutuhkan oleh ayahnya saja tak ada. Benar-benar membuatku miris. Inikah bentuk malin kundang yang baru? Aku tak bisa menjawabnya.

Itu hanya segelintir kisah yang mungkin aku ketahui. Tapi Panti ini tidak hanya berisikan kisah-kisah sedih, kisah cinta juga terjadi disini. Ada juga kakek nenek yang berpacaran, berebut pacar, hingga ada kakek nenek yang dinikahkan oleh pihak panti. Secara sah tentunya.

Setelah mendengarkan 3 kata sambutan, kami masuk ke acara inti, ceramah agama. Ceramah yang disampaikan ustad kali ini tidak hanya menceritakan kelahiran Nabi Muhammad S.A.W. ke dunia ini. Tapi ustad ini juga memberikan materi mengenai sikap menghormati orang tua. Ustad menyampaikan berbagai kisah. Dan ustad juga mengatakan kalau sebenarnya orang tua yang telah berusia senja itu kembali kemasa mereka masih batita (bawah tiga tahun). Mereka perlu kasih sayang yang melimpah, mereka membutuhkan perhatian lebih. Terkadang, memang sebagian orang tua atau kakek nenek kita butuh perhatian yang lebih banyak lagi, karena mereka tak bisa mengurusi dirinya sendiri lagi. Tapi sungguh, bagi seorang anak saat itulah seharusnya mereka tunggu untuk membalas kembali kasih sayang yang telah mereka berikan saat kita masih kecil.

Tak lama kami mendengarkan ceramah, seluruh siswa dibagi perkelompok untuk mewawancarai kakek-nenek yang berada disini. Aku dan teman-teman sekelasku mendapat Wisma Anggur untuk kami bawa wawancara, atau lebih pas bercengkrama dan makan siang bersama. Wisma Anggur yang terdiri atas 4 kamar kakek-kakek dengan luas masing-masing sekitar 2-3 meter persegi, dua buah kamar mandi, ruang makan dan ruang unutk nonton tv yang digabungkan menjadi satu, serta satu kamar unutk petugas, istri dan seorang anaknya.

Wisma Anggur dihuni oleh 8 orang kakek-kakek yang memiliki umur berbeda, asal berbeda, sikap yang pasti berbeda, serta lama berada di PSTW juga sangat beragam. Penghuni Wisma Anggur yang pertama adalah Kakek Ramli. Beliau berasal dari Koto Tuo Simabua, berumur 81 tahun. Beliau sudah 1,5 tahun berada di Panti Sosial ini. Saatku tanya, ”Sia yang ma antaan kek kamari dulu?” beliau menjawab ”Anak!”. Apa yang aku tanya, hanya itu yang dijawab kakek. Kakek ini sepertinya tidak banyak bicara. Terkesan seperti kakek cool. Tapi aku tahu, kalau beliau kesini karena anaknya yang tidak mampu merawatnya faktor ekonomi. Anaknya hanya seorang petani yang bersawah kecil di kampung. Dan yang membuat kakek tetap bahagia, anaknya selalu datang mengunjunginya sekali dalam sebulan membawa cucunya. Itu yang bisa membuat beliau tersenyum saat bercerita.

Penghuni kedua adalah Kakek Ahsan. Beliau berasal dari Batipuah Ateh. Umurnya 85 tahun, dan telah 1 tahun berada di PSTW. Kakek yang terlihat sangat pendiam ini dahulunya berladang di kampung. Memiliki 5 orang anak. Tapi tak seorangpun yang berada di kampung. Karena beliau menolak untuk meninggalkan kampung halaman, beliau di bawa ke Panti. Dan disinilah ia sekarang menghabiskan sisa hidupnya tanpa kasih sayang anka-anaknya.

Penghuni ketiga adalah Kakek Jazin dari Koto Baru Simabua. Menurut teman-temannya, beliau yang paling tua disini. Tapi setelah ditanya berapa usianya, kakek ini menjawab bahwa usianya 82 tahun 3tahun lebih muda dari Kakek Ahsan. Kakek ini memiliki kesulitan dalam mendengar. Tapi beliau tetap berusaha mendengarkan pertanyaan-pertanyaanku. Aku di beritahu anak 8 orang, dan salah satunya bekerja di bagian dapur PSTW. Kakek diantarkan anak-anaknya kesini lantaran anaknya tidak sanggup membiayai orang tuanya. Kakek Jazin menceritakan semua kisah hidupnya kepadaku. Beliau sangat mahir berbahasa Jepang, dan tak malu-malu, beliau mencoba berbahasa Jepang walau hanya menyebutkan Angka yang ditanya. Saya rasa, dahulu memang bisa berbahasa Jepang, namun kini mungkin bahasa itu telah jarang digunakannya.Ia dahulu juga ikut berperang melawan Jepang, Beliau beserta teman-temannya dahulu melawan jepang dengan menjatuhkan batu untuk menghambat perjalanan tentara Jepang dan berusaha menghancurkan Jepang dengan peralatan yang seadanya. Tapi itu tak lama beliau lakoni. Karena setelah cukup umur, Kakek pergi berdagang dari Sumatera Barat hingga Riau. Dan di Riaulah Kakek bertemu istrinya. Kakek yang berprofesi sebagai penjual es cendol bertemu dengan istrinya yang saat itu bekerja di toko kain. Mereka menikah, dan mencoba menjual kain di Padang. Tapi karena usahanya tak berjalan lancar, beliau terpaksa pulang kampung dan menghabiskan waktu selama 13 tahun di PSTW beberapa setelah tahun istrinya meningal.

Penghuni keempat adalah Kakek Almanar dari Sungai Jambu Kec. Pariangan. Beliau berumur 82 tahun dan sudah 8 bulan berada di PSTW. Seumur hidupnya, beliau hanya menikah sekali, namun sayang, Allah belum mengaruniainya seorang anakpun hingga istrinya menghembuskan nafas terakhir. Kakek dahulu berdagang dari pasar ke pasar bersama almarhummah istrinya. Saat ditanya mengapa bisa sampai disini, dengan santai beliau menjawab ”Ndak ado yang ma urus”. Aku hanya bisa membalasnya dengan senyuman tipis.

Penghuni kelima adalah Kakek Munir. Beliau berasal dari Balai Gamba, Batipuah Ateh. Kakek ini berusia 73 tahun, dan telah 2 bulan berada di PSTW ini. Dahulu beliau bekerja sebagai petani. Beliau pernah menikah, namun bernasib sama seperti Kakek Almanar, beliau tidak dikaruniai seorang anakpun.

Penghuni kelima adalah Kakek Umar. Beliau dari daerah Ombilin. Berusia 77 tahun dan sudah 4 bulan berada di PSTW. Kakek ini sangat jarang berbicara, bisa dibilang pendiam seperti Kakek Ahsan. Hingga selama kami berada di Wisma Anggur, beliau hanya terdiam duduk di tempatnya sambil melihat apa yang sedang terjadi di Wismanya.

Penghuni keenam adalah Kakek Ujang. Beliau berasal dari Pangian, Lintau yang sudah berusia 71 tahun. Beliau sudah 4 tahun berada di PSTW ini. Beliau berkata kalau dia berada disini karena diantarkan oleh Wali Nagari disana. Kakek Ujang, seumur hidupnya tidak menikah, beliau selalu membujang seperti namanya. Hidupnya sendiri di kampung, ia bertani untuk membiayai kehidupannya. Kakek ini terlihat begitu kesepian dan membutuhkan perhatian dimataku. Karena setiap ada kesempatan, Kakek selalu berusaha mengambil perhatian kami dengan menjelek-jelekkan teman-temannya dari belakang. Kadang dia berkata kalau temannya tersebut gila, namun lebih sering Kakek berkata ”Ntah iyo ntah indak tu! Jan pacayo lo lai. Nyo panduto.”. Kakek ini benar-benat selalu seperti inikah kesehariannya? Jika iya, bagaimana hubungannya dengan teman-temannya?

Penghuni ketujuh adalah Kakek Udin dari Batua, Sungai Tarab. Usianya 78 tahun dan sudah 8 bulan berada di Panti. Kakek ini datang sendiri kesini. Aku tak tahu alasannya, karena aku menyerah berbicara dengan beliau. Pendengarannya sangat terganggu. Yang bisa aku tangkap hanyalah wajahnya yang bahagia menyambut kedatangan kami.

Penghuni terakhir, yang kedelapan adalah Kakek Hadi dari Bukittingi. Usianya 74 tahun dan baru 3 hari berada di Panti ini. Dahulu Kakek adalah seorang Dosen di Universitas Lampung jurusan Biologi, lalu Kakek masuk ke ranah politik dan terpilih menjadi Ketua DPRD di salah satu daerah di Lampung. Kakek dahulunya kukira adalah orang yang hebat, karena itu terbukti hingga kini yang bisa menjawab semua pertanyaan kami walau pertanyaan itu agak kekinian. Benar-benar bukan orang sembarangan. Tapi entah kenapa, dari 3 orang anaknya, tidak ada satupun yang mau merawatnya. Semua saling bahu membahu menolak untuk merawat Kakek. Padahal, sekaya apapun mereka kini, sehebat apapun mereka kini, itu semua berkat Kakek yang membesarkan mereka. Akhirnya Kakek datang ke PSTW setelah diantarkan oleh mantan mahasiswanya saat di Unila. Sangat bercerita bersama Kakek, senyum terkembang dari bibirnya tiada henti. Sangat berbeda ketika ia masih mengurung diri di kamar untuk beberapa saat. Beliau bercerita tentang berbagai hal yang ingin kami ketahui, beliau measehati kami untuk tidak berpacaran saat masih bersekolah, dan jika telah tamat nanti ingin berpacaran kami harus berpacaran yang sehat. Dan yang membuat aku tertawa adalah ketika aku bertanya kepada kakek yang dahulunya seorang Dosen, ”Kakek bisa bahasa Inggris?” kakek menjawab, ”I dsureineprnxapdj” sebuah kalimat tak jelas tanpa arti apapun. Lalu kakek berkata lagi, ”Bahasa Inggris itu menipu! Yang tertulis apa, yang dibaca juga apa, berbeda”. Spontan, kami langsung tertawa bersama Kakek.

Aku tidak hanya bertanya dan mengobrol dengan Kakek-kakek, tapi aku juga mengobrol dengan Kak Tina, istri petugas di Wisma Anggur. Kak Tina berkata kalau mengurusi Kakek-kakek ini tidaklah sulit, karena mereka telah tahu apa yang harus mereka lakukan setiap harinya. Mereka mencuci pakaian sendiri, karena telah disediakn mesin cuci dan mereka telah diajari cara menggunakannya. Makan mereka juga telah ada yang menyediakannya. Mereka jika tak ada kegiatan bisa menonton atau melakukan hal lainnya. Mereka tidak terkekang oleh berbagai peraturan. Yang susah hanyalah ketika mereka bertengkar hanya karena hal-hal kecil, seperti lupa menyiram lobang WC setelah BAB. Atau kakek yang memang rata-rata sudah pikun lupa mencuci pakaiannya dengan deterjen. Serta Kakek yang kadang berbuat hal aneh-aneh saat merindukan anaknya. Itu yang dikatakan Kak Tina, melihat keramahan Kak Tina, aku juga menjadi yakin kalau ini juga menjadi salah satu alasan Kakek-kakek kerasan berada disini. Selain mereka tak perlu memikirkan hal mendasar lagi, mereka juga di temani oleh penjaga yang mengganggap mereka seperti orang tua sendiri.

Mereka yang sepertinya selalu terlihat sedih karena tak ada yang begitu memperhatikan mereka dan menyayangi mereka seperti mereka dahulu menyayangi anak mereka. Aku lihat foto-foto kunjungan mahasiswa Akper yang tertempel di dinding, Kakek-kakek terlihat bahagia. Saat aku bersama Kakek-kakek dan teman-teman berfoto aku melihat Kakek, mereka penuh dengan semangat dan senyum bahagianya. Saat makan bersama juga terlihat mereka makan dengan lahap, walau sebenarnya itu belum jam makan mereka. Kunjunganku kesini bersama teman-teman dan guru-guru membuat mereka bahagia. Itu yang dapat ku tangkap. Mereka butuh hangatnya kekeluargaan.

Setelah semua usai, aku dan beberapa orang teman, menuju warung Nenek yang berada di sebelah PSTW. Dahulu saat aku masih di bangku SMP, aku sangat sering kesini untuk makan siang. Begitu juga kali ini, namun ada yang berbeda, dahulu Nenek masih tinggal bersama anak perempuannya, tapi kali ini anaknya tersebut tak terlihat lagi. Aku bertanya-tanya sendiri. Apa Nenek juga ditinggalkan oleh anaknya dan akan dibuat seperti penghuni Wisma Anggur yang kesepian tanpa kasih sayang anak-anaknya? Jawabanku langsung terjawab saat aku tengah makan, anak Nenek itu datang dengan membawa seorang bayi Nenek langsung menyambut kedatangan mereka dengan bahagia dan segera menggendong cucu yang telah mengambil hati Nenek.
Hari libur panjang pun telah datang untuk menenangkan pikiran kami yang telah suntuk belajar belajar di sekolah. Rencananya kali ini aku, Vina, Tommy, Reno dan juga adikku tersayang Gavin akan pergi berjalan-jalan sekaligus melihat kebiasaan masyarakat di daerah yang selama ini belum kami ketahui sedikitpun, yaitu kota Palembang. Di sana kami akan tinggal di rumah kakakku yang kebetulan juga tinggal di Palembang. Setelah mengetahui bahwa kami semua bisa berkumpul di Palembang, aku dan saudara-saudaraku sangat merasa senang girang yang mungkin takkan terhingga. Dan ternyata kami semua akan berangkat ke Palembang dua hari lagi naik bus.

Aku, Vina, Tommy, Reno dan Gavin pun sudah mulai sibuk untuk menyipakan segala sesuatu yang akan dibawa nanti dan tentunya hanya barang yang perlu-perlu saja yang akan dibawa. Dan akhirnya besokpun menjadi hari keberangkatan bagi kami, kami semua semakin merasa senang dan tak sabar menunggu hari esok datang. Malam hari sebelum kami berangkat, bibi membantu aku dan saudara-saudaraku untuk melihat kembali barang-barang yang akan dibawa besok. Ternyata Gavin hanya membawa hal-hal yang tidak diperlukan saja, dia hanya membawa beberapa mainan dan makanan-makanan yang ia sukai. “Pantas saja tas kamu ringan dan nggak penuh ya Vin, tenyata kamu hanya membawa benda-benda yang tidak penting….”kata Tommy dengan nada yang sedikit tinggi. Maklum saja dia bilang begitu karena saat itu sudah pukul 22.07 WIB dan besok mereka harus berangkat pagi-pagi pukul 05.30 WIB.”Tommy Tommy kamu nggak ingat ya kalau Gavin itu masih belum bisa melakukan hal yang seperti ini, kamu maklumi saja ya..”kataku dan Bibi pun langsung mengajak kami untuk membantunya membereskan pakaian Gavin. Selesai melakukan hal itu, kamipun tidur agar besok bisa bangun pagi-pagi.

Pagi pun telah datang dan kami semua telah siap untuk melakukan perjalanan panjang yang memakan waktu sekitar 20jam. Bibi juga ikut ke Palembang, karena kalau kami tidak di awasi nantinya bisa membuat susah sajakan. Di dalam perjalanan, kmi hanya berhenti dua kali, yaitu di daerah sekitar perbatasan antara Sumbar-Jambi dan satu lagi di daerah Palembang. Dalam pemberhentian itu kami hanya diberikan waktu untuk menunaikan ibadah shalat dan makan. Sehingga waktu-waktu itu kami gunakan se-efisien mungkin. Tak banyak yang dapat kami lihat disana karena waktu kami yang sangat terbatas. Dan menurut kami budaya masyarakat di sekitar itu hampir sama saja dengan budaya yang ada pada kita. Ternyata itu salah, karena kata salah satu penumpang yang cukup mengenal daerah tersebut masyarakatnya sangat patuh kepada adat yang ada tetapi tidak mau mematuhi hukum. Saat malam hari, aku melihat masyarakt asli suku Jambi dan aku berkata” Vin, ternyata mereka masih tidak malu ya, menggunakan pakaian asli daerahnya. Vina menjawab ”kelihatannya sich begitu ya Ta..” Karena sudah larut malam sekali mata aku, Vina, dan yang lainnya pun tidak bisa terus terjaga hingga akhirnya kami semua tertidur.

Setelah pagi dan waktu shalat subuh datang, kami semua pergi untuk melaksanakan kegiatan wajib itu. Dan beberapa jam setelah itu kami sampai juga di Palembang dan ternyata kakakku bersama suaminya telah menunggu kedatangan kami di pool mobil bus yang kami tumpangi. Kami pun langsung pergi ke tempat tinggal kakakku, di perjalanan menuju rumah kami semua bercerita tentang perjalanan kami yang melelahkan itu. Setelah cukup lama bercerita di atas mobil akhirnya kami semua sampai di rumah kak Cipen. Karena melihat wajah kecapekan yang timbul di wajah kami akhirnya, kakakku memutuskan istirahat dahulu sebelum pergi melihat-lihat hal-hal yang ada di Palembang.

Akhirnya sorepun telah datang dan kami pergi melihat-lihat daerah yang ada di sekitar daerah tersebut. Karena tidak memiliki waktu yang cukup banyak, kami hanya bisa melihat kantor sekaligus kediaman Gubernur Sumatera Selatan yang terlihat megah. Maghrib pun datang, jadi kami memutuskan untuk pulang dahulu untuk shalat, setelah shalat dan makan malam kami melanjutkan perjalanan kami melihat kota Palembang pada malam hari. Kami semua melihat Jembatan Ampera yang penuh cahaya lampu berwarna-warni, lalu kami melihat Mesjid yang paling megah di Palembang dan di dekatnya ada sebuah air mancur yang dihiasi lampu-lampu berwarna hijau dan merah. Malam itu kami sangat kagum kepada kota itu karena terlihat indah, anggun, dan menawan. Mengakhiri jalan-jalan malam itu, kami pergi ke Mpek-Mpek Pak Raden yang terkenal enak. Di sana kami tidak mencicipi mpek-mpek khas Palembang, tetapi menikmati makanan yang bernama tekwan yang seperti soto tetapi berbahan inti ikan ataupun udang.

Esoknya kami semua pergi ke daerah perindustrian yang besar di Indonesia, yaitu Industri Pupuk Sriwijaya. Kami juga melihat sebuah SMA yang terbaik di sana, untuk dapat sekolah disana, kita membutuhkan biaya yang sangat besar karena biaya sekolahnya mencapai ratusan juta rupiah. Kami juga tak lupa pergi ke Kuto Besak Sriwijaya. Yang mana di situ terdapat peninggalan-peninggalan sejarah Kerajaan Sriwijaya. Dan ternyata hari pun telah semakin sore dan semuanya berpikir untuk pulang saja dan melanjutkannya lagi lusa. Karena besok semuanya istirahat di rumah agar liburannya tidak menyebabkan sakit dan melelahkan.

Ternyata biarpun aku dan saudaraku tidak pergi keluar dengan kendaraan untuk melihat-lihat keadaan di daerah Palembang. Aku, Vina, Tommy, dan Reno tetap saja pergi dari rumah untuk melihat situasi dan kondisi di sekitar daerah tempat tinggal kak Cipen. Kami berkeliling di perumahan yang besar itu. Kami melihat banyak orang dari bebagai kalangan, daerah, dan kepercayaan. Di perumahan itu memang ada berbagai jenis kalangan dari orang yang kaya sekali hingga sederhana, yang berasal dari daerah Yogyakarta hingga Padang, dari yang beragama Islam hingga Budha, dan banyak lagi yang berbeda. Mereka tetap saja akur dengan tetangganya tanpa memikirkan perbedaan yang ada. Mereka juga telihat saling mempercayai satu sama lain. Setelah capek berkeliling perumahan, aku dan yang lainnya pulang ke rumah. Di rumah Tommy bertanya kepada kakakku,”Kak, kenapa orang-orang di sini bisa akrab satu sama lain tanpa membedakan apapun kak?” Kak Cipen menjawab “Itu semua karena orang di sini adalah orang yang berpendidikkan, jadi mereka tau apa gunanya mereka berkelahi dengan tetangganya sendiri. Kamu sudah taukan, kalo manusia itu makhluk sosial yang saling membutuhkan.” “Kalau itu sich aku tau kak, tapi apa pernah mereka tidak seperti yang kakak katakan tadi?”Vina langsung bertanya dengan rasa ingin taunya yang tinggi. Kakak menjelaskan ”Sepengetahuan kakak sich belum, karena mereka melakukan yang diajarkan di adatnya masing-masing, yaitu saling hormat menghormati dan harga menghargai. Ya sudah, sekarang Talita, Vina, Tommy, dan Reno, tidur dulu ya..sudah malam dan kasian adik kalian tidur sendiri.”Dengan serentak kami menjawab “Oke dech bos..”

Pagipun telah datang dan kami semua sudah siap melakukan perjalanan ke tempat- tempat yang ada dan bagus. Awalnya kami pergi ke Jembatan Ampera yang terlitas di atas sungai Musi. Palembang memang betul-betul kota wisata sungai, karena pagi-pagi saja, orang sudah banyak pergi berwisata menggunakan perahu. Dan kelihatannya masyarakat di sini juga mencari nafkah di sungai tersebut karena sebagian besar rakyat sudah memiliki perahu. Setelah asyik bermain di Sungai Musi, kami pergi ke stadion bola kaki yang kebetulan pada saat itu sedang sering digunakan pemerintah pusat sebagai tempat berlangsungnya pertandingan di Asian Cup 2007. wajar saja lapangan bola itu digunakan karena memang lapangan itu sangat bagus dan selau bersih. Dan yang bersih di sana tidak hanya lapangan bola saja, tetapi juga daerah dan jalan rayanya terlihat bersih. Mungkin itu karena kedisiplinan rakyatnya kepada hukum pemerintah yang berlaku.

Di sana juga terdapat banyak mall besar, tetapi kelihatannya peminatnya tidak terlalu banyak. Karena jumlah masyarakat yang tidak terlalu banyak, tetapi di daerah tersebut terdapat banyak mall, membuat banyak mall yang bangkrut. Persaingan ekonomi yang pesat membuat banyaknya mall di bangun dan membuat mall yang telah lama di bangun tidak di minati lagi oleh masyarakat sekitar. Karena persaingan ekonomi itu, setiap di bangun mall baru, maka mall yang lama akan diperkirakan bangkrut dalam waktu yang tidak terlalu lama. Persaingan ekonomi ini tidak hanya pada mall, tetapi juga pada hotel-hotel dan perusahaan swasta. Memang betul kalau persaingan ekonomi di kota-kota besar itu sangat pesat, tapi apakah di kota yang tidak terlalu besar hal itu juga bisa terjadi? Kalau bisa hal itu akan bisa membuat susah masyarakatnya saja bukan.

Hukum pemerintah yang berlaku di daerah ini memang sangat ketat, karena keadaan wilayahnya yang selalu bisa terlihat bersih tanpa ada terlihat sampah yang berserakan di sana-sini. Tidak hanya yang terlihat pada kebersihannya saja, tetapi juga kedisiplinan sekaligus kerja keras. Masyarakat di kota ini tidak boleh memberikan pengamen jalanan uang. Karena jika telah diberikan uang, para pengamen akan merasa malas untuk bekerja dan mungkin juga akan malas untuk belajar. Mereka menganggap untuk apa mereka susah payah mencari kerja kalau nyatanya dia bisa mendapatkan uang hanya dengan mengamen. Dan para pelajar juga akan malas untuk belajar di sekolah karena mengatakan untuk apa mereka belajar sekarang kalau nantinya tidak bisa mendapatkan pekerjaan dan menganggap lebih baik mereka mengamen di jalanan dari pada menghabiskan waktu untuk belajar. Karena masyarakatnya terlihat patuh akan hal itu, para pengamen mungkin akan lebih giat belajar dan mencari kerja. Dan pemerintah daerah di sana mengatakan bahwa jika pihak yang berwajib mengetahui ada orang yang memberi uang kepada pengamen, maka orang itu akan di bawa ke pos polisi dan akan dihukum. Mungkin saja rakyatnya bisa patuh kepada pemerintah jika pemerintah memberikan hukuman yang berat bagi pelaku dan jika para polisi selalu disiplin untuk melakukan tugasnya.

Kelihatannya, masyarakat di sini tidak hanya patuh kepada hukum yang berlaku saja, tetapi mereka juga senantiasa selalu tetap bersama dan mengamalkan adat istiadatnya dan menerima masukan dari luar. Karena masih banyaknya masyarakat Palembang yang tidak malu untuk menggunakan bahasa daerahnya dalam kehidupan sehari-hari dan bergaul dengan sesamanya. Biarpun mereka adalah para remaja yang sedang masa puber untuk menggunakan bahasa gaul, mereka terkadang juga masih menggunakan bahasa daerahnya tanpa rasa malu ataupun minder sedikitpun. Mereka juga tidak akan meninggalkan budayanya dengan membangun Rumah Limas sebagai tempat tinggalnya. Dan memang banyak perbedaan yang ada di daerah Sumsel dengan Sumbar.

Ternyata sudah satu minggu aku dan saudaraku berada di Palembang, dan besok kami semua akan kembali pulang. Memang sedih rasanya harus kembali ke rumah, tapi mau bagaimana lagi, waktulah yang memaksa semua ini. Karena sebentar lagi kami semua akan kembali ke sekolah untuk melanjutkan pelajaran ke tingkat yang lebih tinggi. Dan setelah selesai mengemasi barang-barang yang akan dibawa pulang, kami semua kembali tidur. Hari kepulangan kami kembali kerumah pun telah datang, dan hampir sama dengan saat pergi ke Palembang. Yang berbeda kali ini hanya kami berangkat sore hari, bukan pagi hari seperti saat pergi ke Palembang. Seperti saat pergi ke Palembang juga, kami berhenti dua kali di jalan untuk makan. Tapi karena kami pulang ke rumah menaiki travel, kami lebih cepat sampai di rumah dan perjalanan dengan bus yang 20jam berubah menjadi17jam. Kami akhinya selamat tiba di rumah pada pagi hari. Dan saat tiba di rumah dengan suasana yang lain dengan saat liburan semunya terasa sangat berbeda. Tommy pun akhirnya berkata “Memang betul ya, pepatah orang dulu.” Reno memberikan respon “Tentang apa?” “Tentang lingkungan?”kata Vina menambah pertanyaan. “Ya…”Tommy yang sedang berbicara terhenti sejenak mendengarkan Gavin berbicara ”Ya, tentang apa Bang?” Tommy kembali melanjutkanya “Ya tentang lingkungan yaitu LAIN LUBUK LAIN IKANNYA.” Aku langsung membenarkan dengan berkata ”Iya juga ya, karena daerah kita dengan daerah Palembang, maka adat istiadatnya pun juga akan berbeda, iya kan..??” Vina, Tommy, dan Reno serentak mennjawab “Iya juga ya..” Dan Gavin langsung mengucapkan “Oo… begitu ya…” Reno bertanya karena heran “Memangnya kamu ngerti Gav??” Dengan polos Gavin menjawab “Enggak…” Jawaban Gavin membuat kami semua tertawa dengan terbahak-bahak, “Gavin Gavin… sekali-sekali bicara kamu bisa membuat kami tertawa ya…”Ucap Vina dan mereka masih tetap saja terus tertawa melihat adiknya itu…




[[this is my first writings. funny huh? hahaahaa]]
Cinta tau ini keputusan yang salah baginya. Ia telah ceroboh mengambil keputusan, dan kini lihatlah akibatnya.

Saat itu…

Cinta merasa sendiri. Sahabat-sahabatnya kini telah sibuk dengan kegiatannya sendiri-sendiri dengan pasangan masing-masing dan dengan dunia masing-masing. Apalagi sebentar lagi akan diadakan ujian MID Semester dan selang beberapa bulan setelah itu ujian Semester menanti. Semua jadi tak ada waktu bersama untuk bercerita, dan Cinta mulai mencari kesibukkan sendiri.

Akhirnya Cinta mengikuti sebuah kompetisi bernyanyi sebagai utusan sekolahnnya. Setiap sepulang sekolah cinta selalu sibuk berlatih hingga sesaat dia bisa melupakan Aya. Walau saat malam datang Aya kembali menghampiri pikiran Cinta lagi. Tapi itu jauh lebih baik daripada Cinta menghabiskan waktunya untuk hal-hal yang tidak penting.

Disanalah perkenalan itu dimulai. Salah seorang teman dekat Cinta, Lia yang sama-sama mengikuti kompetisi itu mengenalkan Cinta dengan Divo. Awalnya Cinta tidak mau sedikitpun untuk dekat dengan Divo. Tapi Lia sedikit memaksa (mungkin karena paksaan Divo) dan berkata,

“Kenalan aja dulu Cin…gak ada ruginya kan. Toh kalau kamu gak suka setidaknya kamu bisa berteman aja sama dia.”

“Tapi Lia, Cinta gak bisa…..”

“Udahlah, dia gak bakal aneh-aneh kok. Kenalan aja ya. Nomor kamu aku kasih ke Divo ntar. Bye bye…”

Perbincangan di telpon yang singkat itu membuat Cinta memulai petualangan baru di perjalanan cintanya setelah sekian lama Cinta berpisah dengan Aya.

Lia tidak lagi menghubungiku, mungkin karena tugasnya telah selesai. Setelah saat itu Divo sering menghubungiku. Hingga akhirnya dia mengajak bertemu. Cinta tidak menolak karena dia hanya ingin bertemu sebentar saja di dekat sekolahnya. Pertemuan itu tidak membawa perubahan berarti akan sikap Cinta ke Divo. Cinta tetap menganggap Divo teman yang baik untuk diajak bercerita. Apalagi saat itu Cinta benar-benar sendiri kesepian dan tidak memiliki teman untuk berbagi.

Divo mulai sering bercerita ini itu dengan Cinta, seluruh tentang keluarganya, masa lalunya, dan semua kejadian hidupnya. Mereka mulai dekat, tapi Cinta selalu mencoba menjaga jarak, karena ia tau bukan Divo dan tak ada seorangpun yang bisa menggantikan Aya di hatinya. Tapi juga tak dapat diingkari kalau Divo dan Cinta juga nyambung apalagi kalau sudah bercerita. Divo selalu datang ke sekolah Cinta untuk menjemput Cinta pulang sekolah. Seperti biasa, Cinta selalu menolak tapi akhirnya mengalah juga karena ia tau tak baik menolak kebaikkan orang. Itu menjadi kegiatan rutin bagi Divo, walau rumah mereka tak searah dan bahkan berjauhan, walau jadwal mereka pulang sekolah selalu berbeda, Divo selalu rela menjemput Cinta dan rela menjemput Cinta dimana pun Cinta berada atau melakukan kegiatan.

Cinta memang tidak menolak kehadiran Divo, tapi Cinta juga tidak bisa menolak kehadiran orang yang selalu baik dan mau mengisi kehampaan hati Cinta. Dalam waktu singkat Divo dapat mengambil hati orangtua Cinta. Mungkin karena sikapnya yang gentleman dan berani serta sopan. Memang sedikit berbeda dengan Aya yang cukup takut jika berhadapan dengan orangtua Cinta. Itulah yang menjadi nilai plus untuk Divo.

Akhirnya Dibo menyatakan isi hatinya kepada Cinta. Cinta tidak langsung menjawabnya, Cinta meminta waktu beberapa hari untuk menjawabnya. Banyak yang Cinta pikirkan, apa Divo serius, apa hati ini masih bisa menerima orang lain, apa Divo tidak akan sakit hati jika mengetahui kalau hati Cinta tidak bisa berpaling dari Aya, dan apa salah jika menerima seseorang yang sama sekali tidak Cinta sukai atau bahkan Cinta cintai.

Keputusan yang salah itu telah diambil Cinta dengan menerima Divo menjadi pacarnya. Dengan alasan yang simple, karena Divo datang disaat Cinta kesepian, karena Divo begitu baik kepadanya, karena Divo dan dirinya selalu nyambung kalau bercerita. Dan Cinta tak sadar kalau itu hanya akan membuat salah satu diantara mereka sakit hati nantinya. Tapi ternyata Divo overprotective terhadap Cinta. Cinta risih akan hal itu. Dan ternyata Divo tau kalau Cinta sebelumnya sangat mencintai Aya yang ternyata juga adalah teman Aya sewaktu SMP. Cinta juga akhirnya tau satu hal kalau Divo juga tak bisa melupakan kenangan masa lalunya dengan mantannya. Dan Divo masih mencintai mantannya itu.

Dua orang menyatu tanpa Cinta dan masih ingin kembali kepada masa lalu mereka masing-masing, itulah mereka.

Walau cerita Divo dan Cinta sangat nyambung, dan walaupun Divo selalu bisa menghibur Cinta. Di saat sepi Cinta tak bisa mengingat Divo, di hanya teringat Aya. Di saat malam yang hadir kemimpinya bukanlah Divo, tapi Aya. Saat akan tidurpun, Aya lah yang diingat Cinta, bukan Divo.

Akhirnya hubungan itu berakhir dengan cepat, hanya 13hari mereka berpacaran. Divo meminta putus dengan alasan yang mengada ada. Cinta yang sempat disadarkan Aya saat baru jadian dengan Divo kalau hubungan itu tak baik dilanjutkan mengambil kesempatan itu untuk mengakhiri hubungan itu.

Sedikit kembali kebagian disaat Cinta menelpon Aya. Saat itu Cinta benar-benar merasa bahagia, benar-benar senang walau saat itu mereka berdua sama-sama memiliki pasangan masing-masing. Cinta juga entah kenapa tidak malu-malu mengatakan kalau ia masih mencintai Aya dan tidak memiliki perasaan apapun walau berpacaran dengan Divo. Benar-benar tingkah yang aneh.

Setelah hubungan itu berakhir, sahabat-sahabat Cinta kembali menemani Cinta agar Cinta tak mengulangi kesalahan yang sama. Dan tak sampai sebulan berpisah Divo pun kembali mengejar cinta lalunya.

Dua hal yang didapat Cinta, pertama jangan pernah berpacaran dengan seseorang yang tidak dicintai, dan jangan pernah pungkiri kata hati, karena hati tak pernah berbohong.
Cinta tau, ia tak bisa membohongi perasaan yang ia miliki kepada Aya. Tapi bagaimana lagi, Aya tak lagi menjadi miliknya. Aya telah memiliki kehidupan baru. dan Cinta merasa ia harus mengembalikan semua hal yang diberikan Aya kepadanya. Cinta tau, kalau tidak sopan jika mengembalikan semua barang yang telah diberikan orang lain. Tapi bagaimana lagi, Cinta ingin melupakan Aya. Satu-satunya cara ya menghilangkan bayangan Aya. Tapi Cinta tak bisa jika harus membuang semua barang-barang itu. tanpa berpikir panjang, Cinta mengembalikan semuanya kepada Aya. dan Aya hanya bisa menerima itu dengan marah. tidak hanya marah, tetapi sangat marah. Mau bagaimana lagi, bagi inta inilah jalan terbaik yang harus ditempuh.
Kini Cinta sudah membulatkan tekad. Mencari berbagai kesibukan untuk melupakan Aya. Walau sulit, Cinta selalu berusaha. tapi yang namanya perasaan sayang itu tak pernah bisa bohong. Sebisa mungkin Cinta menyampingkan perasaannya kepada Aya. Walau banyak lelaki yang datang silih berganti ke kehidupan Cinta. Ia tak pernah mau melakukan hubungan apapun dengannya. Cinta selalu memilih untuk tetap berteman. Karena Cinta telah berjanji pada dirinya sendiri dan kepada Tuhan. Selamanya ia akan menunggu dan mencintai Aya. Sampai akhir hayatnya. Cinta akan menjaga perasaan itu. Karena Aya segala-galanya untuk Cinta.
Ku ingin kau tahu isi hatiku...
Kau lah yang terakhir dalam hidupku...
Tak ada yang lain hanya kamu...
Tak pernah ada...
Takkan pernah ada...

Benar dia, benar hanya dia...
Ku slalu menginginkannya...
Belaian lembut tangannya...
Ku haus memikirkannya...

Ku ingin kau tahu isi hatiku...
Kau lah yang terakhir dalam hidupku...
Tak ada yang lain hanya kamu...
Tak pernah ada...
Takkan pernah ada...
Ku ingin kau slalu dipikiranku...
Kau yang slalu larut dalam darahku...
Tak ada yang lain hanya kamu...
Tak pernah ada...
Takkan pernah ada...


Lantunan lagu Takkan Pernah Ada dari Geisha itu sungguh merasuk ke dalam diri Cinta. Pikiran Cinta langsung tertuju kepada Aya. Jantung Cinta kembali berdegup kencang, walau hanya mengingat Aya. Sedangkan disana, ia tidak tahu apa Aya masih memikirkannya atau malah tidak pernah memikirkanya sedikitpun.
Betapa bodohnya Cinta yang masih tetap memikirkan orang yang sama sekali tidak memperdulikannya. Cinta begitu menyadari, betapa ia telah disakiti, ditinggalkan dan dibodohi oleh cintanya yang begitu besar kepada Aya. Tapi entah mengapa, sedikitpun ia tidak pernah bisa melupakan Aya. Apalagi untuk membencinya. Semakin Cinta berusaha melupakan Aya, semakin besar rasa rindu yang harus ia pendam. Cinta terlanjur mencintai Aya.
Dengan keadaan biasa yang memang selalu kacau tidak karuan, Cinta mencoba menghubungi Aya. Sekedar ingin mengetahui keadaan Aya. Tapi apa yang didapat Cinta? Tak ada. Tak ada balasan dari Aya. Cinta mengerti, Aya tidak ingin diganggu. Tapi, ini sudah seminggu setelah kejadian itu. Cinta tidak mengetahui keadaan Aya, dan itu membuatnya khawatir. Dan untuk mencari kesibukan agar bisa melupakan Aya, Cinta memilih untuk membuka facebooknya, ternyata Aya mengatakan kalu dirinya terkena flu. Cinta cemas, ia kembali mengirimi Aya sms, meminta Aya untuk segera meminum obat. Dan setahu Cinta, Aya itu selalu malas jika harus minum obat harus didesak dulu, barulah Aya mau minum obat. Saat flu, biasanya Aya harus selalu bersembunyi dibalik selimut karena suhu badannya yang langsung naik secara drastis. Dan dulu, saat masih berpacaran, Cinta selalu menemani Aya walau Aya hanya demam biasa. Tapi kini mana mungkin Cinta melakukan itu. Pacar barunyalah yang harus memberi perhatian seperti itu. Aya hanya membalas ia baik-baik saja dan melarang Cinta membalas sms itu lagi. Cinta yang memang kersa kepala tetap membalas berupa doa agar segera sembuh. Dan Cinta mencoba mengerti, ia langsung mengambil foto Aya dan membawanya tidur.
-***-
Rutinitas sekolah harus dijalani Cinta. Pagi ini, pelajaran Pencak Silat. Cinta tak begitu tertarik menjalaninya, ia hanya bermain-main saat itu. Pikiranyya melayang kepada hal yang telah terjadi sebelum pelajaran dimulai tadi. Cinta dan Vola sedikit berseteru mengenai tempat duduk yang sama-sama mereka perebutkan. Kata-kata Vola yang terlontar sungguh membuat hati Cinta tersinggung. “Gara-gara loe, semua jadi kacaukan...Gue gak mau duduk depan loe kan yang biasanya duduk dibarisan terdepan itu!!!” “Tapi loe juga harus la, kita tu bebas mau duduk dimana aja, siapa cepat dia dapat. Sekali ini Gue minta loe buat duduk di depan kenapa loe marah? Gue juga bosan kali duduk di...”tak sampai selesai berbicara, Vola menyela “Loe bikin kacau aja!!!”(aja...aja...)
Perasaan Cinta yang awalnya baik, kontan berubah menjadi suasana badai. Ia langsung menuju toilet, karena itu satu-satunya tempat yang jarang dikunjungi orang dan tempat yang bisa digunakan untuk melampiaskan isi hati baik itu marah ataupun menangis. Takkan ada yang akan tahu.
Kini pelajaran usai, semua siswa telah mengganti pakaian silatnya dengan pakaian putih abu-abu. Cinta tak ingin berada di kelas, ia tidak mau terlibat masalah lagi, karena barusan saja, saat baru selesai mengganti pakaian, Puja dan Utie meminjam buku milik Cinta, dan Cinta hanya berkata “Iya, bentar ya, bukunya didalam kelas, ntar aja Cinta ambilin...” eh Puja malah menampang yang sangat tak enak dilihat dan berlagak marah kepada Cinta “Kalau gak boleh ya udah!” Cinta bingung, padahal sebelumnya ia tidak ada berkata tidak boleh. Cinta bingung dengan orang-orang di sekitarnya. Hingga ia memilih untuk duduk di sekitar anak tangga yang biasa memang digunakan untuk duduk-duduk siswa. Dengan ditemani buku dan telingga yang tersumbat nyanyian dari mp4. Seharusnya Kita dari grup bang Naff. Itu lagu yang sedang didengar Cinta dengan potongan lirik yang sangat terekam dipikirannya.
Seharusnya dunia ini begitu indah...
Seharusnya dunia ini penuh bermakna...
Takkan ku lewati waktu bila tak bersamamu...
Takkan perih batin ku ini bila kau memilihku...
Seharusnya dunia ini..
Milik kita berdua...

Entah apa yang terjadi, Cinta malah menangis, air matanya jatuh membasahi lembaran buku. Saat itu Cinta merasa sendiri, ia merasa tak seorangpun memperdulikannya. Dia kembali mengingat Aya yang biasanya selalu memberikan ketenangan disaat-saat seperti ini. Ia mengingat Aya yang kini telah pergi menjauh darinya. Ia merasa tak lagi diperdulikan oleh Aya, teman-temannya, gurunya, bahkan sahabatnya sendiri. Cinta semakin menangis terisak-isak, dan langsung memintai tolong kepada temannya memanggilkan Tya.
Saat Tya datang, tangisan Cinta langsung memecah, dan tak beberapa saat setelah itu, Rima, Lisa dan Riri pun telah datang menemani Cinta. Saat itu, langsung digunakan Cinta melepaskan semua unek-unek yang ada dihatinya. Cinta menceritakan semua hal yang selama ini ia pendam sendiri. Hingga Lisa dan Rima harus rela kehilangan 2jam pelajaran untuk menemani Cinta agar bisa kembali tenang.
-***-
Kini saatnya untuk Cinta bertempur dalam lomba matematika, ia bergelut dengan berbagai angka di salah satu kampus tersohor yang ada di tempat Cinta tinggal. Setelah acara itu, Cinta bersama teman-temannya yang juga ikut berlomba menghabiskan waktu di Toko Buku Gramedia. Semua sibuk memilih buku-buku bagus yang akan dibawa pulang, tapi Cinta, sedikitpun tidak tertarik untuk membaca, entah kenapa, padahal biasanya ia tidak pernah bisa diam jika melihat buku-buku bagus. Tapi ini melirik saja tidak. Sudahlah, yang penting waktu yang disediakan guru untuk menunggu hasil Lomba itu keluar, tidak terbuang sia-sia.
Selesai membeli buku, entah kenapa guru Cinta malah menuju kampus Aya dan berhenti untuk shalat disana. Cinta langsung menghubungi Aya dan menanyakan keberadaan Aya. Ternyata Aya sedang berada di kampusnya dan langsung menemui Aya di dekat Masjid kampus itu. Jantung Cinta berdegup sangat kencang, dan mengatakannya kepada Rima, yang ternyata Rima hanya menjawab, “Jangan lebay dong Cin.” Tapi itu tidak dibuat-buat, dan degup jantung yang kuat itu mulai setelah Cinta dan Aya selesai berbicara. Tidak banyak yang mereka bicarakan, Aya hanya menanya kenapa kesini? Sampai kapan disini? Semua jenis basa-basi lainnya juga dia ucapkan. Memang, jantung Cinta tak lagi berdegup kencang, tapi Cinta malah jadi salah tingkah dibuatnya. Sampai-sampai kaki Cinta terkena besi pembatas yang ada di Masjid. Tak ada luka yang berdarah, hanya memar yang sungguh membuat bengkak dan saat sakit. Tapi rasa luka itu tertutupi oleh hati Cinta yang senang setelah bisa bertemu Aya lagi.
-***-
Kaki yang memar tak menjadi hambatan bagi kesenangan Cinta. Tapi ternyata kesenangan itu hanya berlangsung saat-saat itu saja, bukan Cinta yang menyebabkan kesenangan itu berakhir. Tapi Aya. Cinta yang menghubungi Aya hanya untuk meminta tolong sedikit memperbaiki gitarnya. Entah kenapa Aya malah marah dan mungkin beranggapan kalau Cinta membuat-buat alasan agar bisa bertemu Aya. Padahal tidak. Itu jelas hanya permintaan dari seorang teman kepada temannya.
Perasaan buruk yang sebelumnya telah dikubur Cinta lewat harapan Aya kembali membaik dalam menjalani hubungan dengan Cinta walau hanya sebatas teman. Kini perasaan buruk itu kembali bangkit mengerogoti pikiran Cinta yang mulai tak karuan lagi. “Cinta...!!!mengapa kamu selalu seperti ini??!” teriaknya dalam hati.
Kini keadaan Cinta sudah makin membaik semenjak Aya telah mau menghubungi Cinta lagi. Walau tidak setiap hari, bagi Cinta ini jauh lebih baik daripada ia tidak berhubungan sedikitpun dengan Aya. Mereka kembali seperti saat dahulu mereka masih sebagai sahabat. Semua membuat Cinta bahagia.

Dan tiba-tiba, saat Cinta sedang melanjutkan kegiatannya menulis, dering sms hp Cinta berbunyi. Ternyata itu sms dari Aya yang bermaksud ke rumah Cinta. Tentu saja Cinta mengizinkan Aya datang ke rumahnya, karena setelah 2bulan lebih tidak bertemu, Cinta sangat merindukan Aya. Aya hanya mengembalikan tas yang ia pinjam sebelum mereka terpaksa putus. Selebihnya, Aya hanya diam-diam saja. Sampai pada saat Cinta mulai menanyakan tentang siapa pacar Aya, tapi Aya hanya diam. Cinta yang mengerti kenapa Aya diam tidak lagi mau bertanya kepada Aya, dengan alasan yang simpel, takut salah ngomong. Tapi setelah itu malah Aya yang banyak bercerita tentang betapa dia mencintai kampusnya, entah benar-benar mencintai kampusnya, atau malah mencintai orang yang berada di kampusnya. Karena menurut informasi yang Cinta dapatkan, pacar baru Aya teman satu kampusnya.

Itu bukan masalah yang Cinta ambil pusing saat ini. Dia merasakan kebahagiaan yang sudah lama tidak ia rasakan saat itu. Setelah lama bercerita, rasanya dinding es yang mungkin telah terbuat tanpa sengaja itu telah mencair. Akhirnya Cinta mencoba mengajak Aya untuk ‘kabur’ pada hari minggu nanti yang kebetulan bertepatan dengan hari Valentine.

“Aya, hari minggu besok bisa temanin Cin ‘kabur’ gak? Kalau gak bisa gak pa pa kok. Atau udah punya acara buat valentine ya?”

(sambil menggeleng)”Kabur apaan sih?”

“Ya kabur, kan hari minggu besok di rumah ada acara gajebo (GAk JElas BO’). Makanya Cin mau kabur. Rencana awal sih Cin mau main-main bentar aja habis les, tapi ternyata Cin gak jadi les...”

“Ya terus kenapa harus pakai acara kabur coba? Di rumah aja nolongin mama...”

“Tapi Cin punya alasan buat kabur, pertama Cin sangat tidak suka keramaian, dan jelas dalam acara itu pasti banyak yang datang, kedua Cin pengen nyari ketenangan hari minggu itu, dan terakhir mama udah ada yang nolongin kok.”

“Ya udahlah terserah Cin aja...”

“Aya mau nemanin Cin kan???”(sambil masang wajah memelas paling imut versi Cinta).

“Liat dulu...”

Senangnya hati Cinta malam itu, walau Aya belum mengatakan dengan pasti untuk bisa menemani. Tapi Cinta yang kelewat senang ini malah tetap cengar-cengir sendiri. Moment baik itu digunakan Cinta untuk memberikan oleh-oleh dari liburannya kepada Aya sekalian memberikan baju yang sempat Aya kembalikan saat dijadikan hadiah ulang tahun dari Cinta. Alasannya, kata orang kalau ngasih baju itu berarti bisa putus suatu saat nanti, dan untuk menghindarinya, Aya mengembalikan baju itu. Tapi yang namanya takdir, tidak dapat dielakkan dan inilah yang terjadi sekarang kepada mereka berdua.

-***-

Waktu yang dinanti pun tiba, hari ini minggu pagi. Cinta sudah selesai melaksanakan kegiatan rutin lari paginya di setiap minggu. Ternyata, saat Cinta pulang orang-orang sudah rami untuk beres-beres di rumahnya. Cinta langsung menolong merapikan rumah dan membersihkan ini itu sambil berusaha menghubungi Aya. Aya tetap tidak menjawab telp atau membalas sms Cinta. Jam sudah menunjukkan pukul 10.28, Cinta sudah selesai beres-beres, kini saatnya bagi Cinta untuk mandi. Karena dari tadi tidak sempat mandi karena terlalu banyak yang dia siapkan. Selesai mandi, berpakaian dan pastinya makan, jam telah menunjukkan pukul 11.00 dan Aya tetap tidak bisa dihubungi. Orang-orang sudah mulai banyak berdatangan ke rumah Cinta.

“It’s time to go...”

Cinta mengambil semua perlengkapan kaburnya, sebuah i-Pod, novel yang baru dipinjamnya di perpus, dompet, handphone, dan pastinya kunci motor. Cinta berbohong, ia meminta izin untuk kerumah temannya belajar. Padahal tidak.

Perjalanan dimulai, Cinta mengendarai motornya perlahan meninggalkan keramaian di rumahnya. Cuaca mendung, dan Cinta berharap dalam hati untuk tidak hujan. Setelah berjalan sekitar 5km, Cinta berhenti sebentar untuk mengirimkan sms kepada Aya yang intinya kalau Aya sudah bangun dan membaca sms ini, jika ia mau datanglah ketempat biasa mereka mencari ketenangan di tepi danau. Positif thinkingnya Cinta, Aya masih tidur, maklum ia memang suka sekali molor kalau lagi libur. Tidak disangka ternyata Cinta sudah setengah perjalanan, tapi siapa yang menyangka hujan turun tiba-tiba. Memang tidak begitu deras, tapi Cinta tidak mau mengambil resiko kalau ia harus pulang basah dan ketahuan berbohong, jadinya Cinta berbalik arah. Cinta menuju toko hadiah, ia langsung mencari hadiah untuk sahabat dekatnya Tya. Dan saat itu, Cinta melihat ada mug cantik yang bergambarkan lambang dari MU (Manchester United) klub bola kesukaan Aya. Tanpa berpikir panjang, Cinta juga meminta tolong untuk membungkuskan mug itu untuk Aya.

Sesampainya di rumah, Cinta meletakkan motornya dan juga hadiah yang baru saja ia beli. Dan langsung keluar rumah lagi membawa novel dan i-Podnya mengungsi kerumah tetangganya. Disana Cinta tak lagi berusaha menghubungi Aya. Hingga akhirnya tangan Cinta gatal juga untuk menuliskan sms

“Aya...”

Telah lama menunggu akhirnya Aya membalas

“Da pa Cin?”

Langsung kaget plus seneng Cinta menjawab

“Tolong angkat telp Cin ya...”

Langsung menelpon dan sedikit basa-basi sebelum berkata

“Ya gak bisa ya? Gak papa kok...”

“Cin lagi dimana?”

“Di rumah Nia...”

“Sama siapa?”

“Ya sama Nia dong Ya...”

“Mmmm...gak ada yang mau diomongin lagi kan? Ya mau mandi ne...”

“Gak ada kok. Bubye...”

Haduuuhhh....batin Cinta heran, “kenapa Aya cuma ngomong itu aja ya?” Cinta melanjutkan hidupnya dengan membaca novel sambil sesekali cerita-cerita gak jelas sama Nia. Sudah jam 14.30 dan orang-orang mulai pulang satu persatu dari rumah Cinta. Tapi Cinta masih tetap di rumah Nia. Dan nada dering sms handphone Cinta berbunyi. Sms dari Aya singkat, jelas dan padat Aya berkata “Siap-siap, kita pergi”. Cinta membalas “Kemana???”. Tak ada balasan, tapi itu bukan masalah, Cinta sudah siap untuk pergi 15menit setelah sms itu datang. Cinta mengirim sms kepada Aya “Cin udah siap. Jemput sekarang”. Cinta langsung minta izin pergi dengan Aya ke Mamanya dan tak lama, Aya pun sudah sampai di rumah Cinta. Cinta langung berangkat dan mereka menuju Danau tempat biasa mereka mencari ketenangan.

Sesampainya di danau, mereka tidak banyak bicara. Bisa dikatakan mereka cuma berbicara basa-basi tanya kabar dan habis itu, diam seribu bahasa. Dan saat Cinta mulai sedikit menanya tentang pacar baru Aya. Aya malah marah “Bisa gak bahas masalah ne?” setelah itu mereka langsung diam. Namun, hanya mulut mereka yang diam, bahasa tubuh mereka berkata lain. Apalagi Aya, ia mulai mendekatkan kepalanya ke bahu Cinta dan bersandar disana. Jantung Cinta langsung berdetak tidak karuan, dia kembali deg-degan setelah sekian lama tidak. Dan setelah lama bersandar, Aya mendekatkan wajahnya ke wajah Cinta. Semakin lama semakin mendekat, dan Aya mendaratkan sebuah ciuman manis di bibir Cinta. Karena detak jantung yang semakin tidak karuan, Cinta kaget dan tersenyum.

“Kok ketawa? Ada yang lucu?”

“Gak ada yang lucu kok. Cin cuma heran dan bertanya, mimpi apa ya Cin tadi malam?”

“Mimpi apa emangnya?”

“Gak ingat...”

Keadaan kembali mencair, mereka tak lam disana, dan sebelum pergi Cinta meminta izin mencium hidung Aya, seperti yang biasa ia lakukan saat mereka masih berpacaran. Aya tidak menolak dan langsung tersenyum lepas. Dan saat akan naik motor, Aya memberikan ciuman terakhir di kening Cinta. Mereka pulang dengan sangat bahagia walau hanya sebentar saja melepas rindu yang tak pernah terbendung.

Malamnya, Cinta meminta Aya untuk datang lagi kerumah dengan alasan ada yang terlupa. Memang, begitu senangnya tadi, Cinta sampai lupa memberikan hadiah yang baru dibelinya untuk Aya.

-***-

Sudah istirahat, dan keadaan kelas semakin ribut, karena ada yang lagi promosi kartu perdana baru ke sekolah Cinta. Kelas Cinta membuat keputusan untuk memakai kartu perdana itu semuanya agar bisa dengan mudah di hubungi. Dan Cinta meminta temannya membelikan kartu perdana lebih untuk Cinta, tujuannya agar bisa diberikan kepada Aya. Karena Aya memang suka menggunakan kartu perdana baru yang keseringan mempunyai banyak promosi bagus.

Sesampainya di rumah, Cinta langsung menghubungi Aya, tapi tidak ada balasan. Dan saat hampir magrib, Cinta mengirim sms

“Aya, ntar malam bisa kerumah bentar gak?”

“Da pa? Ya gak di rumah”

“Kapan pulang?”

“Belum tau. Memangnya ada apa?”

“Gak da papa kok. Kapan-kapan aja juga bisa...”

“Ya ada apa dulu?”

(bingung, Cinta tak tau harus berkata seperti apa untuk mengatakan kalau ia hanya ingin memberikan kartu perdana kepada Aya. Hanya ingin melakukan itu). Tapi Cinta malah mengirimkan balasan

“Ya udah, tapi Aya yang maksa ya...jangan marah apalagi menjauh dari Cin. Ya, masih bisa dan boleh gak kalau kita balikan lagi? Cin gak bisa bohongin perasaan Cin yang masih sangat cinta ke Ya. Ya kalau gak mau jawab sekarang gak papa kok. Kalau mau nolak karena Ya udah punya pacar juga gak papa. Cin gak maksa. Tapi Cin bakal tetap nungguin Aya kok sampai kapanpun. Cin juga bakal ngerti kok kalau Aya masih pacaran. Yang penting jangan marah apalagi ngejauhin Cin.”

“Maaf ya Cin, tapi Ya udah punya cewek. Ya harap Cin ngerti.”

“Trus kemaren kenapa Ya cium Cin?”

“Gak tau”

“Gak tau?Trus Cin dicium siapa dong?Cin pergi sama siapa kemaren?”

“Karena sayang. Tapi Cin, ngertilah. Ya udah punya cewek. Ya gak bisa balikan cuma gara-gara itu. Ya gak mungkin ngeduainnya. Ya gak mau cewek Ya tau semua ini Cin, lebih baik kita gak berhubungan lagi, telp, sms, gak usah aja. Ya gak mau cewek Ya tau Cin. Ngerti ya. Sekarang udahlah, jauhi Ya Cin.”

“Tapi Cin sebelumnya kan udah bilang kalau jangan ngejauhin Cin karena ne. Please Ya, Cin gak bisa jauh dari Ya. Kalau Ya mau kita tetap kayak kemaren ne Cin mau Ya, asalkan jangan Ya menjauh dari Cin. Cukup kita gak bisa pacaran lagi aja Ya. Jangan sampai kita gak berhubungan lagi. Cin ngerti Ya punya pacar, Cin gak bakal bilang apapun sama dia, karena kenal aja gak kan? Tapi please Ya, ngertiin juga Cin. Please jangan pernah ngejauh dari Cin...”

Cinta tak tau entah apa yang telah diperbuatnya. Yang awalnya hanya ingin memberi kartu, malah berakhir seperti ini. Cinta selalu mengirimi Aya sms agar tidak menjauhinya malam itu. Tapi tetap tak ada balasan dari Aya. Menyesal. Itu yang ada didalam hati Cinta. Tapi semua itu takkan merubah keadaan. Air mata Cinta mulai berjatuhan membasahi bantal tidurnya. Dan hanya air mata itulah yang setia menemani Cinta yang kembali hancur malam itu.
Ini hal yang paling mengejutkan bagi Cinta. Saat berkumpul dengan semua teman-temannya di rumah Putri, tiba-tiba Uki mengungkapkan isi hatinya. ''Cin, langsung aja ya...aku suka sama kamu...kamu mau jadi pacar aku?'' eng i eng. Kaget banget ni Cinta. Anak yang masih bisa dikatakan polos ini hanya mengira Uki bermain-main. ''Tunggu aja jawabannya sebulan lagi...'' cuma itu yang terlontar dari mulut Cinta. Ya jelas hanya itu yang bisa terucap, karena bagi Cinta yang saat itu masih kelas2 SMP, sosok Uki yang telah lama dikenalnya itu hanya sebagai abangnya. Tapi Cinta hanya bisa berharap Uki bisa lupa karena menunggu terlalu lama. Cinta yang mengganggap itu hanya main-main saja malah minta dikenalkan dengan salah seorang teman Uki. Namanya Aya, dia baru pindah dari Medan. Kesan pertama yang didapat Cinta, Aya itu orangnya cool bahkan bisa dikatakan sombong.
Sebulan berlalu, ternyata Uki masih ingat akan janji Cinta kepadanya. Jujur Cinta menjawab, ''Bang, dari dulu sampai sekarang ini Cin cuma anggap abang sebagai abang Cin. G' lebih bang.'' Akhirnya Cinta bisa mengatakan semua itu tapi sepertinya Uki tetap tidak bisa terima.
Kini, Cinta dan Aya semakin dekat. Hampir setiap malam mereka smsan terkadang telpon-telponan. Cinta mulai merasakan hampa jika sehari saja tak mendapatkan kabar dari Aya. Begitu juga Aya. Tapi bagaimana lagi, Aya dan Cinta masing-masing sudah memiliki pacar. Ya akhirnya mereka memutuskan untuk bersahabat saja. Tapi tentunya sahabat dalam tanda 'kutip'. Saat Aya bermasalah dengan pacarnya, dia selalu menceritakannya kepada Cinta, begitu juga sebaliknya dengan Cinta. Dan saat Cinta jomblo, Aya selalu mencarikan pacar untuk Cinta, namun Aya benar-benar mencarikan seseorang yang tidak akan melukai hati Cinta. Tapi dalam menjalani hubungan dekat dengan Cinta, Aya benar-benar harus berhati-hati. Karena, Uki sahabat dekat Aya dan Aya sedikitpun tak ingin Uki merasa sakit hati, apalagi dikhianati. Namun, suatu malam, Uki mengetahui kalau Aya dan Cinta telah sangat dekat, dengan sedikit emosi, Uki meminta Aya menghapus no hp Cinta. Aya melakukannya, dan untungnya Aya sangat hafal dengan no hp Cinta hingga akhirnya Aya membuat nama Cinta dengan '....' dan kali ini tidak ketahuan lagi, karena Aya selalu menghapus setiap smsnya dengan Cinta agar Uki tidak tahu.
Walau bersembunyi-sembunyi, kedekatan mereka tidak merenggang sedikitpun, malah mereka semakin lengket. Hingga suatu hari, Aya jomblo, dan Cinta masih berpacaran dengan Revi, dengan bermaksud menguji perasaan Aya, Cinta mengenalkan Aya dengan sahabat Cinta. Zia, itulah orangnya, ternyata tindakan Cinta kali ini salah. Mereka semakin hari semakin dekat. Aya tak lagi menghiraukan Cinta seperti biasanya. Cinta cemburu, dan kali ini Cinta begitu sadar dengan perasaannya. Cinta yakin, dia membutuhkan, menyayangi dan mencintai Aya. Tapi tak mungkin Cinta memisahkan Aya dengan sahabatnya sendiri yang sepertinya juga senang dekat dengan Aya. Cinta bingung, apa yang harus ia lakukan sekarang? Mencintai Revi? Tidak bisa, sedikitpun selama berpacaran dengan siapapun itu Cinta tak pernah memiliki rasa kepacar-pacarnya dia tak pernah cemburu seperti yang ia rasakan saat ini kepada Aya.

Anjani, anak SMP yang sedang melalui masa pubernya. Masa-masa SMP yang dipenuhi cerita normal anak SMP yang lagi nyoba-nyoba ngerasain apa yang namanya pacaran sama seseorang yang di kagumi. Baik, ganteng, pintar, jago olahraga, anak band, anggota salah satu gank terkenal selalu jadi incaran Anjani dan teman-temannya.

Kali ini didalam gank D’Cubies yang beranggotakan Anjani, Ryez, Dezot, Puji, Tanthy, Lintami dan juga Lestari hanya Anjani yang masih jomblo. Bukan karena tidak laku alias gak ada yang mau, tapi Anjani jomblo karena dia menganggap pacaran itu gak penting dan cuma habisin waktu saja. Hal itu tidak berlaku selamanya. Karena beberapa bulan setelah dia mengetahui bahwa salah seorang saudara sepupunya akan tinggal di daerah yang sama dengan tempat tinggalnya, Anjani menarik kembali ucapannya itu.

Kelvin, itulah nama saudara sepupu Anjani yang baru pindah dari Bandung ke kota kecil di daerah Sumatera Barat tepatnya Batusangkar. Kelvin bias di bilang memiliki karisma tersendiri dari dirinya. Orangnya tinggi, berkacamata, gak kurus gak juga gendut, pendiam, kulitnya sawo matang, dan memiliki pemikat sendiri kalau setiap orang memandangnya. Awalnya ia masih tergolong anak biasa, sampai akhirnya ia masuk kedalam sebuah gank yang cukup terkenal di SMP 2. Anjani sendiri yang merupakan saudara sepupu Kelvin juga mengakui bahwa ia tertarik dengan jiwa Kelvin dan mungkin lebih dari tertarik, Anjani mengakui ia menyukai Kelvin.

Ayu, kakak dari Anjani juga merasa ingin mengenal Kelvin lebih dalam. Tanpa sengaja saat itu terbesit dipikiran Anjani untuk bermaksud mengenal Kelvin lebih dalam dengan cara jadul. Pertama telepon dia dan sms_an dengannya menggunakan nama samaran agar bisa lebih dekat ya pacaran. Ayu setuju saja dengan Anjani, karena sejujurnya ia juga merasa penasaran dengan sifat Kelvin yang pendiam itu sebenarnya seperti apa.

Matahari pagi datang menyinari bumi, keadaan lingkungan cerah, dan tepat pada istirahat pertama di sekolah Anjani SMP 1, gank D’Cubies berkumpul di kantin untuk makan-makan sambil bercerita. Saat itu Anjani memberitahu seluruh teman gank_nya kalau dia akan mulai mendekati Kelvin sebagai orang lain. Dari semua teman-temannya hanya Lestari yang biasa dipanggil Ai yang kurang setuju, tidak ada yang tahu alasannya. Tapi ya sudah akhirnya ia tetap menyetujui apa yang kan dilakukan Anjani. Toh sebenarnya ia juga ingin mengenal Kelvin.

Sepulang sekolah, Anjani langsung beraksi mengerjai Kelvin. Ia baru saja membeli sebuah kartu perdana yang akan digunakannya untuk mengerjai Kelvin. Selesai registrasi kartu, Anjani pun mulai menelepon Kelvin. Ia mengaku mendapatkan nomor hp Kelvin dari saudara sepupunya yang di Batusangkar yang kebetulan adik kelas Kelvin, namanya Keisha. Anjani mengakui dirinya bernama Indah bertempat tinggal di Padang Panjang sekolahnya di SMP 5 Padang Panjang. Kelvin yang polos percaya saja dengan semua pengakuan Anjani.

Tiap hari mereka selalu telepon-teleponan juga sms_an. Kelvin merasa asyik mengobrol dengan Indah yang dia kenal di telepon itu. Baginya Indah itu sosok seorang gadis yang periang, karena setiap mereka mengobrol Kelvin selalu bahagia dan tertawa karena ucapan-ucapan Indah. Indah atau Anjani juga merasakan hal yang sama, ternyata Kelvin itu tidak seculun yang ia pikirkan. Anjani berperang double, ia berperang sebagai sepupu Kelvin dan juga sebagai teman dekat Kelvin yaitu Indah.

Kelvin yang penasaran akan bentuk rupa dari Indah selalu meminta Indah untuk mengirimkan fotonya melalui Keisha ataupun meminta Indah untuk memberi tahu alamat friendster Indah serta sering meminta ketemuan. Karena tak mau ketahuan, Anjani selalu menolak semua permintaan Kelvin. Setiap Kelvin berkata kalau dia sedang berada di Padang Panjang, Anjani atau Indah selalu berkata kalu dirinya sedang ada urusan keluarga. Dan agar tidak terlalu pusng menghadapi Kelvin, Indah akhirnya mengatakan kalau dia pindah bersama keluarganya ke Pekanbaru. Dengan begitu Kelvin tidak bisa lagi meminta Indah untuk ketemuan.

Kelvin yang tahu kalu Anjani berteman dekat dengan Keisha yang di yakininya sebagai sepupu Indah selalu mendekati Anjani. Siapa tahu Anjani mengenal Indah, itu yang ada di dalam pikirannya. Setiap Kelvin menanyai tentang Indah kepada Anjani, didalam hati Anjani selalu tertawa geli karena Indah itu adalah Anjani.

Melihat sifat Kelvin yang sepertinya penasaran akan Indah dan sifat Kelvin yang secara tak langsung juga mengatakan bahwa sebenarnya ia menyukai Indah, Anjani tidak mau menyia-nyiakan waktu dan moment yang ada. Hingga akhirnya Kelvin jadian dengan Anjani sebagai Indah. Hari itu sore-sore tanggal 12 Oktober 2008 mereka resmi jadian. Walau awalnya Kelvin ragu apa ia tidak dipermainkan oleh Indah yang sma sekali belum pernah ia temui dan ketahui bentuk rupanya. Walau begitu, Kelvin tetap tidak bias memungkiri perasaannya kepada Indah yang dikenalnya melalui telepon.

Anggota D’Cubies sangat terkejut mendengar kabar bahwa misi Anjani berhasil ia jalankan dan banyak yang senang akan hal itu kecuali 1 orang, yaitu Ai. Kini Ai juga sudah jomblo. Ternyata jomblonya Ai dan ketidaksenanggannya akan sikap Anjani yang terkesan mempermainkan Kelvin itu dikarenakan Ai menyukai Kelvin. Anjani belum mengetahui hal ini, yang tahu hanyalah Dezot dan Ryez. Mereka tidak mau memberitahu Anjani karena takut akan membuat persahabatan mereka hancur hanya karena Ai juga menyukai Kelvin. Semua anggota D’Cubies tahu, bahwa sebenarnya Anjani tidak hanya bermaksud ingin mengerjai Kelvin, mereka tahu kalau Anjani menyukai Kelvin.

Hari-hari dilalui Anjani sebagai dirinya sendiri, Anjani dan sebagai pacar idaman Kelvin, Indah. Mereka tidak pernah absen untuk sms_an dan telepon-teleponan. Kelvin yang tidak sabar ingin mengetahui bentuk rupa pacarnya itu langsung mendesak Indah agar memberikan fotonya kepada Keisha dan supaya Kelvin memintanya dari Keisha atau Anjani saja. Hingga suatu malam saat Kelvin sedang mengobrol dengan Anjani, Kelvin meminjam Hp Anjani. Saat itu Kelvin melihat foto-foto dan ternyata Kelvin menemukan foto seorang gadis cantik yang sudah direncanakan Anjani sebagai Indah. Kontan Kelvin sangat merasa senang mendapatkan seorang gadis cantik dan periang, padahal sebenarnya ia tidak mendapatkan Indah seperti yang dibayangkannya itu.

Berita bahwa Kelvin telah mendapatkan foto Indah akhirnya sampai di telinga Ai. Ai langsung kesal karena ia merasa Anjani sudah terlewat batas mengerjai Kelvin. Saat istirahat panjang di SMP 1 dan SMP 2, hampir seluruh anak berkumpul di lapangan Indojolito. Tempat itu digunakan Ai untuk berbicara kepada Kelvin. Ai menceritakan semua hal tentang Indah kepada Kelvin. Karena tidak mempercayai Ai, Kelvin memanggil Anjani untuk memberikan kejelasan. Akhirnya Anjani mengakui perbuatannya karena ia tahu ia tidak bisa terus menerus mengelabuhi saudara sepupu yang ia sukai itu. Kelvin yang kesal dan merasa sakit hanya bias terdiam dan memberi maaf kepada saudaranya, Anjani. Dengan sesal yang amat terdalam Anjani meminta maaf akan semua kesalahannya dan tak lagi ingin membuat Kelvin marah. Sejak saat itu Anjani dan Kelvin kembali dekat sebagai sahabat dan sepupu yang saling membantu.