Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan

Mom, time goes so fast,
20 tahun lebih mama merawat, membesarkan, menjaga, mengajar
Tanpa lelah tanpa keluh kesah
Mom, time goes so fast,
Lebih dari dua kali usia ini mama menjalani waktu
Suka duka mama lalui, jauh lebih berat dari yang ku lalui
Tanpa sesal tanpa rasa terbebani
Mom, time goes so fast,
Dunia muda membawaku hanyut pada kesenangan sendiri
Lupa jika mama tidak muda lagi
Lupa jika harusnya menciptakan kebahagiaan untuk mama
Mom, time goes so fast,
Membalas budi atas semua yg mama beri tidaklah cukup
Tidak membuatmu menangis
Membawa banyak kabar bahagia
Memberi sedikit kesenangan
Hanya itu
Mom, time goes so fast,
And I love you more

Aku teringat... saat pertama kita bertemu...
Kau berusaha menjauh dariku...
Demi sahabatmu...

Aku teringat... saat pertama kali kau mengajakku kencan...
Aku merasa hari itu adalah kencan pertamaku...
Padahal tidak...
Kau membuat ku terkesan...
Dan aku rindu saat-saat itu...

Aku teringat saat ku berpergian bersmamu...
Kau rangkul tubuhku...
Kau lindungi aku...
Kau genggam tanganku...
Kita berjalan menelusuri keramaian...
Seakan dunia milik kita berdua...

Aku teringat saat aku kedinginan...
Kau selalu berikan aku kehangatan...
Aku rindu pelukan itu...

Aku teringat aku menangis...
Kau hapuskan air mataku...
Dan berkata jangan menangis lagi...
Aku rindu suaramu yang selalu menenangkan jiwaku...

Aku teringat saat-saat kita berdua...
Kita saling melempar senyum...
Aku rindu senyuman manismu...
Aku rindu kecupan sayang dirimu...

Aku teringat saat bertemu orang tuamu...
Untuk pertama kalinya...
Sebagai pacarmu...
Aku jadi salah tingkah...
Dan saat itu kau berusaha mencairkan suasana...

Aku teringat saat kita makan berdua...
Di malam yang romantis...
Ditemani rintik hujan...
Kapan itu terulang lagi???

Aku teringat di kala malam aku menangis...
Kau kerjai aku...
Kau buat aku takut...
Kehilanganmu...
Lalu kau tertawa dan bilang kalau semua itu bercanda...

Aku teringat saat kita becanda...
Kita saling mengelitik dan tertawa...
Setelah itu kau membisikkan...
Jangan tinggalkan aku...
Aku rindu bisikkan itu...

Aku teringat saat aku berulah...
Kau selalu marah...
Kau memandangku tajam...
Aku takut saat-saat seperti itu...

Aku rindu...
Pelukan...kecupan...genggaman...tatapan...bisikkan...suara...dan senyumanmu...
Aku rindu saat-saat brsamamu...
Aku rindu padamu...
Sungguh merindukanmu...

Oleh : WR, HPHW, UN (2009) Tengadahkan wajahmu angkat kedua tanganmu Ingat berapa lama hidupmu sia-sia Ingat kapan terakhir kali kau ucap ‘Lailahaillallah’ hingga membuat hatimu bergetar Kapan terakhir kali kau terhanyut dalam bacaan alquran, memahaminyya ditengah kesunyian malam ‘Dengarkanlah’ air matamu akan mengalir jika kau bernar-benar merasakan Temukan suatu tempat, begitu panas sangat menakutkan Yang terdengar hanya jeritan kesakitan dan teriakan kepedihan Dan yang kau lakukan hanya menangis, merintih mengucap penyesalan Tuhan berkata “Kenapa tak kau telingamu untuk mendengar yang baik Kenapa tak kau gunakan matamu untuk melihat yang baik Dan kenapa tak kau gunakan mulutmu untuk bicara yang baik Ketika dunia berhenti berputar, ketika itu manusia tak sanggup lagi berharap Ketika matahari digulung dan tak kan bisa lagi menerangi Dan dalam sekejap menelan semua kemunafikan Ketika itu laut menyerang membongkar semua kesombongan manusia, Ketika itu mulut tak lagi bersuara, Semua terendam dalam pekikan dan kematian Dan ketika itu kita kan sadar, betapa kecilnya kita dihadapan Tuhan, Dan ketika itu kita sadar, betapa seringnya kita mediami perkataan Tuhan Jika hari itu tiba, kau akan berpikir, andaikan aku tak begitu, ohh… Betapa indahnya surga itu, tapi tiba-tiba kau terjatuh Kedalam NERAKA Api setan itu akan tersenyum menanti kedatanganmu Masih bisakah kau berkata suci, sedang kau tak pernah mensucikan diri, Masih bisakah kau mencari cacat orang lain, sedang kau tak pernah menyadari kecacatanmu, Masih bisakah kau tertawa, sedang kau belum cukup siap untuk menghadapi hari itu Kemana kau akan mengadu? Hartamu tak bisa membawamu keluar, Bahkan cinta yang kau puja tak bisa berbuat apa-apa, Cintailah siapa yang membuat cinta… Camkan… hari itu benar-benar ada Entah hari ini, entah esok, entah kapan…
Tersenyumlah saat kau mengingatku
Karena saat itu aku sangat merindukanmu
Dan menangislah saat kau merindukanku
Karena saat itu aku tak berada disampingmu
Tetapi pejamkanlah mata indahmu itu
Karena saat itu aku akan terasa ada di dekatmu
Karena aku telah berada dihatimu
Untuk selamanya
Tak ada yang tersisa lagi untukku
Selain
Kenangan-kenangan yang indah bersamamu
Mata indah yang dengannya
Aku biasa melihat keindahannya cinta
Mata indah yang dahulu adalah milikku
Kini semuanya terus jauh meninggalkanku
Kehidupan terus kosong tanpa keindahanmu
Hati cinta dan rinduku adalah milikmu
Cintamu takkan pernah membebaskanku

Bagaimana mungkin aku terbang mencari cinta yang lain
Saat sayap-sayapku patah karenamu
Cintamu akan tetap tinggal bersamaku
Hingga akhir hayatku dan setelah kematian
Hingga tangan Tuhan menyatukan kita lagi
Betapapun hati telah terpikat pada sosok terang dalam gelap
Yang tengah menghidupkan sinar hidupku
Namun tak dapat menyinari dan menghangatkan perasaanku yang sesungguhnya
Aku tidak pernah bisa menemukan cinta lain
Selain cintamu
Karena mereka tak tertandingi sosok dirimu dalam jiwaku
Kau takkan pernah terganti
Bagai pecahan logam yang mengekal
Kesunyian, kesendirian dan kesedihanku

Kini aku telah kehilanganmu
bila ada tangis
maka akan ada tawa disampingnya
bila ada keberhasilan
maka akan ada kegagalan disampingnya
jika aku bisa memilih
antara masa lalu dan masa sekarang
aku akan memilih masa lalu
dimana aku bisa menangis terharu
dan tertawa karenanya
Kami bersedih
Kami merenung
Kami tabah
Akan cobaanMu

Saat Engkau memperingatkan kami
Kau luapkan air kemarahanMu
Kau buat kami yang di timur ini menangis
Kehilangan tempat tinggal
Harta benda
Sanak saudara

Saat Engkau menegur kami
Kau tumpahkan sebagian kebencianMU
Kau buat kami yang dari barat ini tertegun
Akan besarnya kuasaMu
Tingginya diriMu
Dahsyatnya lecutanMu

Saat Engkau menguji kami
Kau keluarkan panas bumiMu
Kau buat kami yang dari selatan ini meraung
Meratapi nasib buruk
Entah kapan berubah
dan berakhir

Kami mohon ampun
Kami mohon ampun
Kami mohon ampun
Tuhan ampunilah kami
Bak puisi dahulu

Begitu banyak bintang yang bersinar
Namun hanya satu bintang
yang bersinar terang dihatiku
Itulah perasaanku padamu

Kau bintang yang paling terang
Kau bintang yang paling bersinar
Kau bintang yang menyinari tiap hariku
Kau bintang yang pertama yang slalu hidup
Hidup di relung hatiku

Namun kini aku kehilangan sinarnya
Tak mungkin lagi aku mencapainya
Tak bisa lagi aku lihat cahayanya
Aku telah disilaukan sinarnya

Kini aku buta
Tak bisa melihat disaat malammu bersinar
Tak bisa melihat disaat terang muncul
Tak bisa melihat disaat air jatuh membasahiku
Tak bisa melihat disaat kau ditutupi

Entah kapan aku bisa melihat sinarmu lagi
Apa aku masih bisa melihat indahnya cahayamu
Mungkinkah aku menggapaimu
Jika terjadi aku tak ingin disilaukan
Aku tak ingin melepaskanmu
Izinkan aku melihat cahayamu
Walau hanya dari kejauhan
Karena kau penerangku
satu nama yang selalu kuucap sebelum tidur lelapku
satu nama yang selalu dapat menentramkan jiwaku di saat ku gundah
satu nama yang pergi meninggalkanku sendiri bersama hujan dan entah kapan akan kembali
satu nama yang membuatku tersenyum bersedih tertawa dan menangis dalam waktu bersamaan
satu nama yang selalu ku ingat di relung hati ini
satu nama yang memberiku sejuta kenangan indah
satu nama yang selalu ingin ku peluk mesra
satu nama yang memanggilku dengan cinta
satu nama yang memberiku kedamaian
satu nama yang dapat menyempurnakan hidupku
satu nama yang selalu ku rindu
satu nama yang selalu ku cinta
satu nama yang takkan terganti
kau lah segalanya untukku

by: cinta